Tangis Berbuah Cinta





Pagi itu, dikala ku berjalan sendiri, kulihat sosok yang menghampiri. "Hy, kamu kenapa?" Aku mendongak, melihat sosok itu yang tinggi dan tampan. Ia nyaris sempurna, wajahnya, hidungnya, dan postur tubuhnya. Aku jawab, tidak apa-apa, aku hanya berjalan sambil berfikir.


Padahal di dalam dadaku sesak sekali. Di trotoar itu aku baru saja menahan tangis setelah dibilang lagi, "kamu kan cuma anak angkat, jangan banyak mengatur." Kalimat itu sudah jadi sarapan harianku. Lalu laki-laki di depanku itu tidak pergi, dia malah duduk di sebelah pembatas jalan, menjaga jarak, dan bilang pelan, "Kalau capek mikir, istighfar dulu aja. Aku temani sampai adzan selesai."


Aku kira dia akan modus kenalan ala-ala. Ternyata tidak. Namanya Kifli. Dia tanya namaku, asal kampusku, dan kenapa aku suka jalan sendiri pagi-pagi. Aku jawab seperlunya. Dia tidak menghakimi. Sejak hari itu, setiap aku overthinking dan jalan kaki tanpa tujuan, dia selalu ada, bukan sebagai pacar, tapi sebagai penenang. Dia yang ngingetin sholat ketika aku lagi futur, dia yang bilang, "Allah tidak pernah anggap kamu cuma, Farah. Kamu hamba yang dicintai."


Dulu aku tumbuh di rumah yang ramai tapi sepi. Ibu dan ayah angkatku baik, tapi kalau ada masalah keluarga, aku selalu disisihkan. "Kamu tidak usah ikut, kamu tidak paham darah kami." Aku hafal rasanya jadi bayangan di rumah sendiri. Makanya aku lebih suka di jalan, karena di jalan, tidak ada yang tahu aku anak angkat yang tidak dianggap.


Pelan-pelan Kifli mengubah cara pandangku. Dia tidak menawarkan pelarian, dia menawarkan pulang. Pulang ke Allah dulu. Dia ajak aku ikut kajian Rabu sore, dia ajak aku menulis lagi hobi yang sudah lama kutinggalkan. Luka yang bertahun-tahun kututup dengan senyum, akhirnya kubuka dalam doa-doa panjang setelah tahajud. Aku belajar, kalau aku tidak dianggap manusia, aku tetap dianggap oleh Ar-Rahman.


Tiga tahun setelah pertemuan di tengah jalan itu, aku menikah dengannya. Dengan mahar yang sederhana dan ijab qobul yang membuatku gemetar. Allah ganti semua sepi itu. Aku punya anak, seorang bayi perempuan yang matanya mirip sekali dengan Kifli. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku dicintai tanpa syarat, tanpa embel-embel "anak angkat". Aku dicintai sebagai aku, sebagai istri, sebagai ibu.


Sampai suatu sore, bel rumah kami diketuk. Ibu angkat dan ayah angkatku berdiri di depan pintu dengan wajah lelah. Usaha mereka bangkrut, mereka butuh bantuan untuk berobat. Dunia rasanya berhenti. Anak kecil yang dulu mereka sisihkan, kini mereka datangi untuk meminta tolong. Kifli meremas tanganku, tidak berkata apa-apa, hanya memberi isyarat, lakukan karena Allah.


Dan aku menolong dengan sigap. Aku peluk ibu angkatku, kubisikkan, "Tidak apa-apa, Bu." Aku tidak dendam. Karena Islam mengajarkanku, memaafkan bukan berarti melupakan luka, tapi memilih untuk tidak menjadikan luka itu sebagai penjara. Sosok baik yang kutemui di tengah jalan itu tidak hanya menjadi suamiku, dia menjadi jalan Allah untuk mengajarkanku arti dicintai dan mencintai kembali, bahkan kepada mereka yang pernah melukaiku. (**)

(redaksi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekecewaan