Menemukan Tuhan di Setiap Perjalanan
Suatu sore, aku berjalan melintasi sebuah sungai kecil. Awalnya, aku hanya ingin mencoba sesuatu yang berbeda—sedikit menguji adrenalin, merasakan bagaimana rasanya menaklukkan rasa takut dalam diri sendiri. Tidak pernah terpikir bahwa dari sebuah percobaan sederhana itu, tumbuh rasa cinta terhadap perjalanan dan alam.
Sebelum berangkat, aku mulai belajar menyisihkan sedikit demi sedikit rezeki yang kumiliki. Bukan karena aku ingin berfoya-foya, tetapi karena ada perjalanan yang ingin kutuju dan pengalaman yang ingin kukumpulkan. Bagiku, perjalanan tidak selalu tentang seberapa jauh kaki melangkah, tetapi tentang apa yang bisa dipelajari sepanjang jalan.
Gunung, pantai, dan danau perlahan menjadi bagian dari cerita hidupku. Bersama teman-teman, aku menjelajahi tempat-tempat yang sebelumnya hanya bisa kulihat melalui gambar. Di sana, aku menemukan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ketika berdiri di atas gunung, melihat luasnya laut, atau menyaksikan tenangnya permukaan danau, aku sering terdiam dan berkata dalam hati, “Sungguh, betapa indah ciptaan-Mu, ya Allah.”
Dari perjalanan itu aku mulai memahami bahwa alam adalah salah satu cara Allah menunjukkan kebesaran-Nya. Gunung mengajarkanku tentang keteguhan, laut mengajarkanku tentang keluasan, sementara perjalanan panjang mengajarkanku tentang kesabaran. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Ar-Rahman: 13.
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Setiap pemandangan indah membuatku semakin sadar bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari luasnya ciptaan Allah. Tidak ada alasan untuk merasa paling hebat. Justru semakin banyak tempat yang kukunjungi, semakin aku menyadari betapa banyak hal yang belum kuketahui dan betapa besarnya kuasa Sang Pencipta.
Namun, perjalanan ternyata bukan hanya tentang tempat yang indah. Ada manusia-manusia baik yang kutemui di sepanjang jalan. Silaturahmi dengan teman-teman semakin erat, tawa dan cerita menjadi kenangan yang sulit dilupakan. Aku juga mendapatkan teman-teman baru dari berbagai latar belakang. Dari mereka, aku belajar bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidupnya masing-masing.
Sesekali, setiap bulan, kusisihkan waktu untuk berjalan dengan tujuan yang pasti. Aku tidak ingin berhenti hanya karena lelah. Aku ingin terus melatih fisik dan mental. Aku mulai berlari, menjaga tubuh, membangun kekuatan, dan perlahan membentuk tubuh yang lebih sehat. Ternyata, aku menyukai proses itu.
Aku belajar bahwa menjaga tubuh juga merupakan bagian dari rasa syukur. Tubuh ini adalah amanah dari Allah. Karena itu, merawatnya bukan sekadar untuk terlihat kuat, tetapi agar suatu hari nanti tubuh ini tetap mampu digunakan untuk melakukan hal-hal baik, beribadah, bekerja, membantu orang lain, dan menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya.
Kini, setiap kali melangkahkan kaki dalam sebuah perjalanan, aku tidak lagi hanya mencari tempat baru. Aku sedang mencari pelajaran baru. Aku sedang mengenal diriku sendiri. Dan yang paling penting, aku sedang belajar mengenal kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya.
Mungkin aku tidak tahu ke mana perjalanan berikutnya akan membawaku. Tetapi satu hal yang selalu ingin kuingat: sejauh apa pun kaki melangkah, jangan sampai hati menjauh dari Allah.
Sebab perjalanan terbaik bukanlah perjalanan yang membuat kita sekadar sampai pada suatu tempat, melainkan perjalanan yang membuat kita pulang dengan hati yang lebih bersyukur, jiwa yang lebih tenang, tubuh yang lebih kuat, dan iman yang semakin dekat kepada-Nya. (*)
#redaksi


Komentar
Posting Komentar